Tren Staycation di Kalangan Milenial Demi Postingan Instagramable

Info Pariwisata – Tren staycation atau  menjalani liburan tapi di lokasi yang dekat saja dan dilakukan di dalam kota memang sedang booming kalangan milenial. Salah satunya demi alasan kebutuhan posting di media sosial.

Praktisi dan Pelaku Staycation, Paundra Hanutama menjelaskan Staycation pertama kali terjadi di Amerika Serikat di mana saat itu terjadi krisis ekonomi pada tahun 2007-2010. Saat itu, masyarakat yang didominasi kaum milenial tetap ingin liburan dengan hemat budget. Maka daripada harus berpelesir ke negara bagian yang jauh, lebih baik uangnya digunakan untuk liburan di dalam kota.

“Dari diskusi dan sumber yang saya baca soal Staycation, itu berawal dari krisis di AS. Karena ada pengaruh krisis ekonomi tapi tetap mau liburan dan reward myself, jadi staycation yang dekat-dekat saja,” jelas Paundra kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Menurutnya, Staycation terdiri dari asal kata Stay dan Vacation. Maka dia menegaskan Staycation hanya berlibur di dalam kota.

“Sayangnya banyak pergeseran makna. Padahal staycation itu liburan di dekat tempat tinggal. Kalau orang bilang staycation ke Bali ah, staycation ke Jogjakarta ah, padahal rumahnya di Jakarta atau sekitarnya, itu salah. Itu namanya Vacation. Kalau staycation hanya di dalam kota yang dekat dengan domisili,” jelas Paundra.

Praktisi Hotel Paundra Hanutama saat sedang staycation di sejumlah hotel di Jakarta. (Instagram Paundra Hanutama)

Ada 2 Kelompok

Menurutnya, pelaku staycation terdiri dari 2 kelompok. Kelompok pertama dilakukan oleh keluarga. Kelompok kedua dilakukan oleh milenial.

“Tujuannya sama-sama berlibur dekat area rumah. Misalnya saya suka Staycation di Kemang, Jakarta, padahal rumah saya di Jakarta Timur. Di tengah hingar bingar kemacetan dan pekerjaan yang padat, boleh Me Time dan memanjakan diri. Rileks sejenak daripada saya harus ke Singapura atau Bali,” jelasnya.

Baca juga:   Denny Sumargo Lebih Suka Staycation di Kampung Halaman

Untuk keluarga, biasanya mereka lebih suka berlibur staycation antara 2-3 hari. Sedangkan milenial umumnya 1 hari.

“Datanya rata-rata lama menginap sih 1,5 hari. Jadi kalau keluarga biasanya 2-3 hari, milenial hanya 1 hari,” jelas Paundra.

Demi Media Sosial

Menurut Paundra, tren milenial yang melakukan staycation umumnya memang hanya ingin mendokumentasikan foto atau video demi posting di media sosial. Maka tak heran, meski menginap hanya 1 hari atau 1 malam, milenial bisa sampai membawa lebih dari 1 koper. Itu senua demi foto atau Outfit Of The Day.

“Sama seperti saya, biasanya saya bisa bawa lebih dari 1 koper ya. Padahal cuma gaya minum kopi lucu di salah satu sudut hotel, tapi gaya busananya yang lucu,” ungkapnya.

Dan uniknya lagi, Staycation di kalangan milenial biasanya dilakukan berkelompok. Tujuannya, agar hemat budget dan ada pihak lain yang mendokumentasikan foto.

“Biasanya pesan hanya satu kamar tapi bisa berempat atau berlima. Ya itu terserah ya nyaman atau enggaknya dalam satu kamar. Yang penting posting, zamannya pamer, dan ada teman yang fotoin kita,” jelasnya.

Marcia Audita saat melakukan Staycation di sejumlah hotel di Jakarta. (Instagram Marcia Audita)

Hal senada diungkapkan Marcia Audita, salah satu milenial yang bekerja di Jakarta Selatan. Milenial berusia 25 tahun itu memilih lokasi staycation yang , hits, dan kekinian. Biasanya dia membawa 2 pasang pakaian untuk berfoto lucu.

“Saya biasanya kalau lagi runway weekend mencuri waktu di tengah weekend. Milih lokasi staycation gampang diakses dengan tempat tinggal kita. Misalnya rumah di Depok, jadi yang dekat-dekat saja di selatan. Yang unik, lokasi bagus, pastinya terjangkau. Tujuannya hanya buat melepas penat,” katanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of